Kamis, 24 Juli 2008

Belajar Dari Sebuah Anekdot

Inilah kisah sebuah ironi di negeri berjuluk jamrud khatulistiwa. Kukisahkan ke dalam satu anekdot untuk menjadi perenungan kita semua. Alkisah.... Seorang lurah menegur seorang warganya karena pada tanggal 17 Agustus 2005 baru lalu warga tersebut tidak memasang bendera di depan rumahnya. Sang Lurah berkata : "Mengapa kamu tidak pasang bendera? Apakah kamu sudah tidak cinta lagi dengan tanah air mu?" Dengan sangat enteng si warga yang kebetulan orang berdarah batak itu menjawab : "Bah, cemana pula aku mau cinta sama tanah air pak ! Sedangkan tanah saja aku sewa dan air aku beli!" Dengan menggeleng-gelengkan kepalanya yang penuh tanda tanya itu Sang Lurah meninggalkan si Warga tersebut. Mari belajar bersama!

Buruk Muka Cermin Dipecah

(I)

Satu pelajaran yang dapat dipetik dari makna pepatah “buruk muka cermin dipecah” adalah gambaran tentang kegagalan menyikapi realitas, dan itu sama artinya dengan ketidaksiapan menerima kenyataan hidup. Seseorang tidak siap memberi pengakuan atas kekurangan dirinya. Padahal pengakuan seperti itu amat penting sebagai motivasi untuk memperbaiki kehidupannya.

Dalam konteks (politik) kebangsaan, pepatah “buruk muka cermin dibelah” adalah simbolisasi perwatakan suatu bangsa yang hanya siap memimpin namun tidak siap dipimpin. Juga simbolisasi atas keangkuhan dan egoisme, sebuah sikap mau menang sendiri. Generasi yang lahir dari rahim bangsa seperti ini, akan mengalami kesulitan untuk tumbuh menjadi manusia yang arif dalam menyikapi setiap perbedaan dan juga sulit untuk memahami serta membumikan makna pepatah “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, sedikit sama dirasa dan banyak dibagi bersama”. Demokrasi yang tumbuh dalam tata kehidupan politik bangsa seperti ini hanyalah sekedar sebuah “peseudo democracy”.


"Seseorang tidak siap memberi pengakuan atas kekurangan dirinya. Padahal pengakuan seperti itu amat penting sebagai motivasi untuk memperbaiki kehidupannya"



Dalam konteks keberagamaan, pepatah ini juga mensimbolisasi ketidaksiapan komunitas agama menghadapi realitas perbedaan sebagai fitrah. Kegagalan yang terjadi di komunitasnya selalu dilegitimasi sebagai akibat dari perbuatan komunitas lain di luar dirinya. Sangat mudah menyalahkan orang lain, padahal “duri” itu menancap di ulu hatinya sendiri. Barangkali benar orang lain punya andil sebagai penyebab sesuatu, tapi benarkah andil orang lain itu sebagai satu-satunya sebab? Di sinilah sikap otokritik dibutuhkan bagi setiap komunitas agama.

Dalam konteks berkebudayaan, acapkali tidak semua kelompok di masyarakat siap menghadapi keanekaragaman budaya di sekitarnya. Seringkali mereka gagal menyikapi setiap perbedaan latar belakang kultural. Satu kelompok menganggap dirinya sebagai yang paling luhur sedangkan yang lain dipandang hina. Orang kemudian saling mengejek dan menjatuhkan satu sama lain. Tidak sedikit konflik justeru terjadi di sekitar wilayah ini.

Kalaupun boleh digunakan pepatah ini dan oleh karenanya kehidupan akan menjadi lebih baik (demikian harapannya), adalah dengan memberikan tafsir yang berbeda sebagai berikut : untuk “memecah cermin” karena “betapa buruknya wajah negeri ini”, maka cermin yang mesti dipecah (baca : dipersalahkan) adalah kesenjangan-ketidakadilan, bukan perbedaan-ketidaksamaan. Dalam konteks ini pula tafsir tersebut mensyaratkan agar para pemimpin negeri yang “berwajah buruk” ini segera “memecahkan” egosentrisme di dalam diri (dan kelompok)-nya masing-masing, kemudian dapat duduk sama rendah berdiri sama tinggi mencari, menemukan dan menyelesaikan berbagai persoalan mendesak dan mendasar yang dihadapi rakyat negeri ini.

(II)

Keseharian hidup ini acapkali memang dihadapkan pada berbagai realitas, tidak hanya sekedar perbedaan, melainkan juga realitas kesenjangan.
Namun sangat jauh berbeda antara makna perbedaan dengan makna kesenjangan. Perbedaan lebih bermakna ketidaksamaan, sedangkan kesenjangan lebih bermakna ketidakadilan. Kaum perempuan dan laki-laki secara kodrati tidaksama, oleh karena itu realitas kodrati di antara mereka bukan merupakan fenomena ketidakadilan. Realitas Ketidakadilan antara kaum perempuan dan laki-laki muncul tatkala kaum perempuan tumbuh di bawah dominasi kaum laki-laki. Ideologi Patriakhi adalah sebuah konstruksi suprastruktur yang menjadi penyebab lahirnya berbagai kesenjangan dalam kehidupan antara kaum perempuan dengan kaum laki-laki. Ini hanya satu contoh.

"Generasi yang lahir dari rahim bangsa seperti ini, akan mengalami kesulitan untuk tumbuh menjadi manusia yang arif dalam menyikapi setiap perbedaan dan juga sulit untuk memahami serta membumikan makna pepatah : “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, sedikit sama dirasa dan banyak dibagi bersama”


Contoh yang lain adalah kemiskinan. Bahwa kemiskinan bukanlah gejala perbedaan antara orang kaya dan tidak kaya, majikan dan buruh, tuan tanah dan budak, dan sebagainya sehingga kemiskinan sekedar dipahami sebagai sesuatu yang niscaya dan lumrah. Kemiskinan adalah sebuah gejala kesenjangan yang lebih bersifat struktural. Sebagai akibat dari struktur sosial (ekonomi-politik) yang nyata-nyata timpang. Demikian kiranya beberapa contoh dapat disebutkan di sini, tentunya masih banyak contoh lainnya yang dapat dijelaskan untuk membedakan antara makna perbedaan sebagai suatu ketidaksamaan, dengan makna kesenjangan sebagai suatu ketidakadilan.

Oleh karenanya, kearifan menyikapi perbedaan sangat dibutuhkan oleh siapapun, begitu pula kesungguh-sungguhan untuk melawan kesenjangan dan ketidakadilan. Mari bercermin pada keburukan wajah sendiri, lalu insyaf dan bertaubat (baca : berjuang melawan kedzaliman, ketidakadilan). Barangkali ini lebih baik daripada memecah cermin sedangkan yang buruk wajah kita sendiri. Mari belajar bersama!

Berjalan Di Atas Realitas, Berpijak Pada Hari Akhir

Prinsip ini kuteguhkan sebagai dasar filosofi hidupku. Ia lahir sebagai hasil perenungan setelah sekian waktu aku mencari titik temu antara dunia sebagai realitas dan hari akhir sebagai idealitas. Prinsip ini pula yang telah menjawab kegundahanku sekian lama aku mencari jawab "bisakah mempertemukan realitas dunia dengan idealitas akhirat ke dalam satu ayunan langkah kehidupan?". Pada akhirnya prinsip ini pula yang telah meneguhkan keyakinanku bahwa di manapun aku berada dan kemanapun aku melangkah, tempat pijakku tetap satu yakni Hari Akhir! Konsep Hari Akhir dalam hidupku adalah cita-cita ideal yang mesti kucapai melalui pemahamanku atas dunia sebagai realitas yang mesti kujalani dan segala cita-cita kemuliaan, keadilan, kebaikan, kebenaran yang harus kuraih. Pahit manis kehidupan di dunia bagiku adalah kenyataan yang tak mungkin kuhindari. Kedukaan ataupun kegembiraan di dunia adalah bagian yang mesti dilalui hingga akhirnya sampailah hidup ini pada gerbang akhir menuju etape hidup yang terakhir, yakni Hari Akhir. Para budiman, ijinkan aku belajar dari prinsip hidup seperti ini. Mari belajar bersama!

Belajar Merendahkan Hati

Pernah mendengar pepatah, duduk sama rendah berdiri sama tinggi? Pepatah ini jika digali sampai makna yang terdalam bisa menjadi salah satu terapi kesombongan. Pepatah ini mengajarkan kita untuk selalu bersikap rendah hati, anonim dari sikap tinggi hati (sombong). Tidak ada yang pantas kita rendahkan hanya karena kita berada di tempat yang lebih tinggi. Siapapun berkesempatan untuk berada pada puncak tertinggi dan tentunya kesempatan itu bagian dari penghargaan atas prestasi masing-masing. Kesempatan seperti itu bukan berarti menjustifikasi keberadaan seseorang untuk bersikap semena-mena terhadap siapapun yang berada di level bawahnya. Apapun posisi setiap orang, berbeda atau sama, hendaknya bisa saling belajar menghormati, saling belajar mengasihi dan saling belajar merendahkan hati. Sikap rendah hati juga dapat dipelajari dari padi; kian merunduk karena semakin berisi. Mari belajar bersama!

Rabu, 23 Juli 2008

Belajar Berprasangka Baik

Salah satu misteri kehidupan ini adalah sulitnya mengetahui dengan pasti apa yang ada di balik pikiran, perasaan dan tindakan orang lain di luar diri kita. Seperti pepatah mengatakan, "dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa yang tahu?". Barangkali kita pernah merasa jengah dengan pernyataan atau tindakan seseorang, lalu kitapun mencoba merumuskan kesimpulan tertentu tentang orang tersebut. Dalam upaya merumuskan kesimpulan itu, tidak sedikit di antara kita yang lebih mengedepankan prasangka buruk ketimbang prasangka baik. Menurut pendapatku, prasangka buruk justeru akan semakin menutup rapat pintu misteri itu.. Sementara di balik pintu misteri itu ada bilik yang di dalamnya terdapat cukup banyak hikmah. Sebaliknya, pintu misteri yang penuh hikmah itu akan mudah dibuka dengan prasangka baik. Untuk membuktikannya, ga ada salahnya kita coba praktekkan. Nanti atau esok lusa apabila ada teman, sanak saudara, atau siapapun melakukan sesuatu apapun, baik atau buruk terhadap diri kita langsung atau bukan, berusahalah merumuskan kesimpulan di balik perilaku orang tersebut dengan mengedepankan prasangka baik. Mudah-mudahan kita akan merasakan perbedaan mendasar dengan di saat mana kita pernah mengedepankan prasangka buruk. Ada aliran energi positif yang mengalir di dalam darah kita dan memancarkan cahaya hati menjadi terang benderang. Jika hal itu terjadi, sesungguhnya di saat itu kita sedang mendapatkan hikmah karena pintu misteri itu telah terbuka. Salah satu hikmahnya adalah kita mendapatkan kondisi batin jauh lebih tenteram, gak kemrungsung, dan banyak lagi hikmah lain yang dapat digali secara terus menerus. Semoga. Mari belajar bersama!

Nasehat Dari Seorang Kawan

Seorang kawan pernah kumintai nasihat, dengan penuh permohonan aku berkata begini : "Bung, tolong berilah aku nasehat yang dapat kujadikan bekal buat aku melangkah dalam kehidupanku hari ini". Dengan rendah hati dia menjawab, "Aku belum pantas memberikan nasehat. Apalagi untuk sesuatu yang belum atau tidak pernah aku lakukan". Lalu aku tetap memohon, "Berilah aku nasehat dari apa yang sudah pernah kamu lakukan". Dengan sangat bijak dan bersahaja dia menuliskan dua baris kalimat : "Membimbing tanpa tanda seru (!) Mempercayai tanpa tanda tanya (?)". Hingga saat ini aku masih terus menggali makna terdalam dari dua kalimat itu.. Mari belajar bersama!

Perempuan Tangguh

Dalam beberapa kesempatan saat aku melakukan kunjungan lapangan di desa-desa sasaran Rekompak (di Aceh maupun DIY, Jateng dan Jabar), kerapkali aku menyaksikan kaum perempuan begitu tekun mengikuti berbagai event pertemuan yang digelar dan difasilitasi para Fasilitator. Mereka tidak sekedar hadir dalam pertemuan-pertemuan itu, melainkan juga aktif mengemukakan pendapat dan mengartikulasikan kepentingannya. Tidak hanya itu, dalam kesempatan yang lain aku juga menyaksikan kaum perempuan aktif terlibat dalam proses kegiatan lapangan dari berbagai jenis pekerjaan, dari mulai melakukan pemetaan swadaya, pendataan korban dan kondisi rumah, belanja material, bahkan ikut bekerja bersama para tukang membangun rumah. Luar biasa! Perempuan-perempuan itu sungguh sangat tangguh. Meskipun di satu sisi hidupnya masih terhimpit beban struktural karena ekonomi yang sulit dan juga beban kultural karena mereka juga masih harus mengurusi kesibukannya di sektor domestik (rumah tangga), tetapi mereka seperti tidak perduli, semua dikerjakan dengan tekun dan dengan hati yang tulus. Kesadaran apakah yang membentuk sikap dan perilaku kaum perempuan hingga sampai setangguh itu? Mungkin masih sedikit di antara kita yang mau mempelajarinya, apalagi bagi kita yang masih merasa cukup mapan dalam domain dan kuasa rezim patriakhi. Hehehe... Mari belajar bersama!